24 Tahun: Jiwa Remaja Dengan Tubuh Dewasa
Usia: Berdaya dan Berupaya
Tahun ini aku menginjak usia 24 tahun. Agaknya ini usia yang unik. Menurutku di usia-usia sebelumnya, aku merasa masih muda bisa melakukan hal apapun dan yap perjalanan masih panjang. Entah menginjak 24 tahun, terasa betul kalau memang aku tidak boleh kekanakan lagi (seharusnya). Namun kalau boleh berpendapat, orang-orang yang bersikap kekanakan sebenarnya bukan sebenarnya kekanakan, itu hanya cara untuk membuat kehidupan dewasa lebih menyenangkan. Kalau semua hal harus serius, kapan waktu kita bisa menikmati hal-hal random, lucu, dan plenger? Tentunya di usia 24 tahun dengan kesadaran 6 tahun lagi berusia 30 tahun, itu sesuatu yang agak merisaukan ya. Bagaimana bisa 6 tahun lalu aku hanya remaja 18 tahun yang konyol dan 6 tahun ke depan aku akan menjadi manusia dewasa dengan usia kepala tiga. Sebenarnya kalau diketawain lucu juga, bagaimana waktu bergerak begitu cepat, sedangkan ada hal-hal yang masih kita rengkuh dalam jiwa kita. Bagian-bagian diri yang masih belum ingin menua, merasa bisa melakukan apa saja, kenekatan jiwa masa muda, dan ternyata masih ada tersisa di usia 24 tahun. Entah bagaimana dengan usia ke depannya, tapi sejauh yang aku tahu dari orang-orang yang lebih tua di sekitarku. Di masa dewasa itu (yang sebenar-benarnya), mungkin kita sudah bekerja, bisa menghasilkan uang sendiri, mampu melakukan apa yang kita ingin, tapi ternyata waktunya tidak ada, teman sudah sibuk dengan kehidupan masing-masing, bahkan energinya sudah habis, sepertinya pulang kerja mending tidur aja kali ya wkwkwk.
Untuk itu, dengan kesadaran nurani yang penuh kebijaksanaan diri, menurutku memutuskan untuk terus melakukan hal-hal yang disukai adalah cara untuk bertahan hidup, menikmati hari, meningkatkan gairah hidup, dan membuat hari-hari berlalu dengan bermakna karena memang waktu terlalu cepat berlalu dengan kegiatan manusia dewasa yang mulai monoton serta kehilangan sensasi hal-hal baru dalam hidup. Memang usia tidak ada yang tahu berapa lama tersisa, tapi sepertinya bukan hal yang buruk untuk terus berusaha melakukan yang terbaik berapapun umurnya kan? Aku punya pandangan untuk kalaupun suatu saat Tuhan memanggil untuk kembali, aku tidak mau menyesali apapun dalam hidup. Aku mau mencoba hal-hal yang memang ingin kulakukan dan aku ingin menutup mata dengan rasa cukup atas hidup tanpa penyesalan apapun. Kehidupan ternyata amat berharga, ada orang yang menyia-nyiakan tiap waktu berlalu padahal banyak pasien sekarat di rumah sakit yang ingin masa usia sehatnya bertambah dan hidup dengan baik kembali. Kehidupan yang begitu banyak pahit manisnya ini ternyata hanya sekali. Kehidupan setelah kematian terlalu banyak evaluasi dari Tuhan, mulai alam barzakh sampai padang mahsyar, itu bukan kedamaian, itu kekhawatiran atas amal baik dan buruk. Satu-satunya hadiah yang diberikan oleh Tuhan untuk memberi manusia kebebasan atas bertindak dan berpikir sesuai dengan batas-batas yang ditentukan dalam kitab ya dalam bentuk kehidupan dunia yang fana ini. Memang hidup tidak selalu senang, ada kalahnya sendu meradang, tapi bukankah kita menikmati semuanya dan menoleh ke belakang dengan rasa terharu karena ternyata semuanya akan terlewat?
Aku bersyukur, usia 24 tahun sebenarnya menurutku hadiah dari Tuhan. Aku masih diberikan kesempatan gagal dan berhasil di setiap percobaan, sementara temanku bahkan ada yang diambil nyawanya dalam kondisi tidak tahu gagal atau berhasil dalam proses percobaan karirnya. Harusnya aku berterimakasih bukan, aku masih bisa bernapas disini, memberikan dan menerima hal-hal positif dalam hidup serta menikmatinya dengan baik. Intinya, aku mau hidup dengan baik. Ibu dulu berkali-kali memberi nasihat, sebisa mungkin hidupku harus lebih baik dari ibu, ibu tidak mau anaknya mengalami kemalangan yang sama yang pernah dialaminya. Untuk itu, aku mengupayakan yang terbaik hingga saat ini untuk membuktikan bahwa usahanya membesarkan aku sampai 15 tahun kala itu tidak sia-sia. Aku tumbuh dengan baik berkat orang-orang baik yang ada di sekitarku. Aku juga berdoa kepada Tuhan, semoga orang-orang baik di sekitarku senantiasa diberikan kesehatan dan kehidupan yang baik serta perlindungan atas keberkahanNya. Itu sudah cukup.
Tertanda,
Manusia Yang Belajar Kehidupan Dewasa
Komentar
Posting Komentar