Pengakuan Terakhir: Inkompetensi Diri

 Sepertinya aku punya pemikiran lain lagi tentang pernikahan. Percintaan yang aku rasa gagal berkali-kali itu membuatku menyimpulkan satu hal tentang pernikahan, aku tidak siap sama sekali. Bahkan tidak ada wedding dream, tidak ada bayangan aku akan menikah dengan menggunakan gaun atau apapun itu. Yang tergambar di pikiranku saat ini hanya satu, seorang wanita yang bekerja, mengumpulkan uang dan niat untuk mimpi berpergian lebih jauh lagi, mimpiku tentang seorang istri dan ibu sepertinya nihil. Aku tidak pernah benar-benar berani untuk menjalin hubungan atau membayangkan bagaimana aku mengurus suami dan anak nantinya. Mengupayakan diri sendiri saja aku mati-matian, aku tidak berani untuk mengupayakan orang lain. Aku takut menjadi istri dan ibu yang buruk. Aku takut mengacaukan rumah yang sebenarnya kuimpikan indah itu.

Aku membayangkan diriku sendirian sampai tua, rasa-rasanya aku sepertinya bisa mengaturnya, bagaimana cara untuk tidak kesepian dan bertahan hidup sendirian dibandingkan harus memikirkan bagaimana aku bisa hidup dengan orang lain dalam satu rumah, memikirkan masa depan anak, ataupun mempersiapkan segala halnya sebagai seorang istri dan ibu. Aku mengaku, di usiaku yang ke-23 tahun menjelang 24 tahun kurang 3 bulan lagi itu, aku tidak pernah siap menjalin hubungan, aku tidak memimpikan sebuah pernikahan, dan aku sepertinya tidak pantas bersanding dengan seseorang. Aku tidak cukup hebat untuk dibanggakan sebagai seorang istri dan ibu nantinya. Aku bangga, tapi dengan diriku sendiri, bukan sebagai seseorang untuk orang lain. Maaf Tuhan, kali ini aku akan menghapus kata pernikahan dari hidupku, begitupula percintaan. Aku tidak mampu menyempurnakan ibadahku, aku masih belum mampu.

Komentar

Postingan Populer