SISA USIA: SEJUTA KENANGAN YANG TERSISA

Titik balik paling menyenangkan untuk memiliki kesadaran bahwa dunia ini amat luas dan manusia nyatanya begitu beragam, berawal dari keberanian untuk mendaki ke penanggungan pada Agustus 2024 lalu. Bertemu banyak orang baru, dari baik sampai buruknya di gunung, menurutku kurang lebihnya mencerminkan bagaimana manusia berinteraksi di dataran. Dari gunung ke gunung yang pernah kudaki selama kurang lebih satu tahun penuh membuatku lebih menghargai waktu, kehadiran manusia di sekitar kita (teman), dan uang yang tentunya perlu diperoleh untuk bertahan hidup. Pendakian mengajarkan diri kita bentuk bertahan, apapun cuacanya, aku pernah mengalaminya dari badai sampai cerah, nyatanya hanya kesenangan dan kenangan yang kubawa pulang. Sebanyak-banyaknya aku mengeluh di perjalanan ketika mendaki, aku selalu bisa tertawa ketika terjatuh atau terpeleset karena hujan, aku masih bisa menikmati waktu-waktu  mendaki ketika hujan atau badai sampai kejadian-kejadian evakuasi yang tidak disangka-sangka.

Pendakian akan selalu berkesan, memberikan makna bahwa hidup harus terus berjalan, sebagaimana proses mendaki naik dan turun gunung, rasa lelahnya, tapi terus membuat pendaki kembali berkali-kali ke gunung yang kadang sama dengan teman yang berbeda-beda. Tiap puncaknya aku selalu berpergian dengan orang-orang yang berbeda, hal ini membuatku menyadari bahwa tidak ada yang selamanya. Teman bisa pergi, uang datang ketika dicari dan pergi ketika harus dihabiskan, dan waktu begitu banyak terbuang untuk banyak hal-hal dalam hidup. Kalau kata orang, pendakian adalah kombinasi sempurna dari uang, teman, dan waktu. Uang bisa dicari, teman dan waktu? Sepertinya belum tentu. Hal-hal ini yang membuatku menyadari kehadiran orang-orang di sekitar kita amat penting karena tidak selamanya, nikmati selagi ada momennya karena suatu saat habis juga masanya.

Rekap pendakianku sedari 2024-2025 yang lalu kurang lebihnya sebagai berikut.

  • 24 Januari 2024 - Ijen

    Athaya, Cani, Adel, Detta, Manda, Azhar, Tegar, Yorda
  • 13 Juli 2024 - Penanggungan dan Sarah Klopo (Via Kedungudi)
Ardani
  • 6 Agustus 2024 - Penanggungan (Via Tamiajeng)
Uus, Cetta, Nuha, Olin, Labib, Alvian
  • 26 Agustus 2024 - Lawu (Via Cemoro Sewu)
Mba Adel, Mas Acil, Bang Heri, Azril
  • 27 Oktober 2024 - Slamet (Via Bambangan)
Elok, Ayu, Azril, Aris, Mas Ucup, Reza
  • 16 November 2024 - Lorokan
Ardani
  • 30 November 2024 - Pundak
Ardani, Aris, Amel
  • 18 Januari 2024 - Kawi Batu Tulis
Anis, Biba
  • 6 Februari 2025 - Penanggungan (Via Tamiajeng)
Uus, Vicky, Lukman, Farhan
  • 1 Mei 2025 - Kawi Batu Tulis
Uus, Elok, Firman
  • 29 Mei 2025 - Puthuk Gragal
Aura
  • 14 Juni 2025 - Buthak 
Elok, Eli
  • 15 Juni 2025 - Kawinajang Via Precet Bendosari
Elok, Firman, Mba Diana, Alif, Abun
  • 7 Juli 2025 - Arjuno Via Sumberbrantas
Pipi, Azizah, Luki, Agus, Nav, Hanif, Alan
  • 23 Agustus 2025 - Pegat
Elok

  • 24 Agustus 2025 - Kelud Via Karangrejo
Sepia, Eli, Firman, Elok, Blonde
  • 9 September 2025 - Penanggungan Via Tamiajeng
Aura
  • 29 September 2025 - Arjuno Via Tretes
Mba Anita, Om Wafi, Aris, Galang, Wahid, Aldo, Fadil, Nurul, Abi

Selanjutnya mungkin ranu kumbolo untuk menutup pendakian tahun 2025 di bulan desember. Kalau boleh merangkum pendakian mana yang paling berkesan. Jujur, masih Arjuno via tretes, kayanya meskipun treknya bikin kaki sakit, badan pegel semua, tapi seperti kata bapak BC, " wes to, aku ngerti pean-pean munggah iki golek pegel e, kapok kapok lombok". Menurutku, pendakian terakhir itu, kombinasi sempurna dari orang-orang asik, pemandangan menawan, dan pendakian menantang. Meskipun secara emosional, semua awalnya dari penanggungan agustus 2024. Semoga nanti bisa ke gunung-gunung impian lainnya. Tetap semangat berkehidupan apapun tantangannya karena masih banyak orang baik yang belum ditemui dan tempat-tempat indah yang belum dikunjungi. Hidup-hidupilah hidup yang singkat karena kalau bukan diri kita yang memberi makna dalam hidup kita sendiri, lantas siapa?

Pendakian mengajarkanku beberapa hal,
  • Nikmati semuanya dari badai sampai cerahnya, begitupula dengan hidup nikmati penderitaan dan kebahagiaan dalam hidup, itu seninya berkehidupan, warna-warninya.
  • Terus berjalan meskipun rasanya puncak ga nyampe-nyampe, begitupula dengan hidup, ayoo bergerak, apapun rintangannya kita didesain untuk beraktivitas, terus jalan apapun hambatannya, jalan aja terus, berhenti boleh, tapi jalan terus nanti juga nyampe, jangan lupa ada puncak (tujuan) yang harus dicapai.
  • Puncak bukan segalanya, proses pendakiannya yang paling berkesan. Begitupula dengan hidup, hasil bukan segalanya, bagaimana kita meniti tiap prosesnya untuk mendapatkan hasilnya yang paling penting.
  • Kaki sakit, badan pegel, naik gunung capek, ngabisin duit, tapi bisa ketawa meskipun jatuh berkali kali, bisa mati kalau salah injak di tempat tinggi, bisa hipotermia kalau ngawur persiapan salah tapi pemandangan indah gantinya, teman-teman seperti keluarga yang hangat kalau tepat. Begitupula hidup, masing-masing orang memilih penderitaannya masing-masing yang mampu diderita, kita hidup bukan untuk bersenang-senang, tapi menjalani kesulitan dan melewati semuanya karena di balik semua pedih ada bahagia yang pernah dirasakan, di balik semua sepi ada rasa hangat dari kebersamaan.
  • Pendakian itu keren, semua filosofi hidup ada di proses mendaki. Satu-satunya hal yang gapernah disesali untuk dicoba.



Komentar

Postingan Populer